Jumat, 19 November 2010

pulang ke bathin

PULANG KE BATIN
7 August 2009
Setiap kali pulang ke rumah
orang tua di lereng Gunung
Lawu, perbatasan Jawa Tengah
dan Jawa Timur saya biasanya
menyempatkan diri untuk
mendaki sebuah perbukitan
kecil dan menyempatkan diri
duduk di atas sebuah gua.
Membebaskan batin untuk
mengangkasa bersama semilir
angin yang berhembus sepoi-
sepoi…
Tempat orang tua saya berdomisili
ini adalah sebuah desa terpencil di
utara Gunung Lawu. Namanya Desa
Kuniran, Kecamatan Sine yang
berada di Kabupaten Ngawi, Jawa
Timur. Inilah desa paling akhir di
ujung Kabupaten yang berbatasan
dengan Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah itu.
Untuk memasuki wilayah Desa
Kuniran, Kecamatan Sine, ada
beberapa alternatif jalan. Ada yang
harus melewati Kecamatan
Jogorogo yang relatif berkelok-kelok,
ada yang landai yaitu yang melalui
kawasan Tunjungan dekat Sragen,
ada pula yang melalui Kecamatan
Mantingan. Bisa pula melewati Alas
Ketangga lantas terus ke selatan.
Alas ini terkenal bagi kalangan
mistikus untuk mencari sandi-sandi
rohani. Bagi kalangan mistikus, Alas
Ketangga adalah “Ibu” sementara
Alas Purwo di Banyuwangi adalah
“ayah”. Konon, bila ingin melengkapi
laku spiritual, bergurulah ke “ayah
dan ibu” ini, maka sang anak yaitu
Anda akan “lengkap” ngelmu-nya.
Bagi saya pribadi, tidak terlalu ribet
untuk percaya dengan kepercayaan
mistik yang demikian itu. Untunglah,
Tuhan memberikan saya
kebodohan untuk memahami
bahasa-bahasa sandi yang demikian
sehingga tidak terlalu kebingungan
untuk menjalani laku yang mereka
percaya. Barangkali pula, Tuhan
akan menunjukkan cara dan jalan
yang lain untuk memahami ngelmu
kasunyatan versi saya. Saya yakin,
Tuhan Maha Memberi Petunjuk
setiap saya mengarahkan rasa dan
menggeluti dunia batin-Nya yang
Maha Tidak Terjangkau.
Salah satu jalan yang ditunjukkan-
Nya adalah jalan pulang ke rumah
orang tua. Biasanya saya
pergunakan kesempatan yang
langka tersebut untuk
mengembalikan dan membersihkan
diri dari segala macam polusi mental
yang keruh akibat terlalu banyak
bersinggungan dengan dunia fisik.
Semesta fisik, material, benda bila
terlalu banyak berada di dalam
pikiran memang akan cenderung
membuat pikiran dan batin kita
keruh. Pikiran dan batin tidak
mampu untuk melihat dan
merasakan kehadiran hal-hal yang
gaib, mistik, supranatual, adikodrati
dan transendental. Itulah sebabnya,
saya merasa perlu untuk
mengosongkan mental, batin dan
pikiran agar mampu mengakses
energi Tuhan yang Maha Hebat.
Perjalanan dari Surabaya menuju
Ngawi saya simbolkan perjalanan
ruhani dari yang dangkal menuju
yang tinggi. Surabaya berada di
dataran rendah lambat laun
meninggi pelan-pelan, berproses
setapak demi setapak menggapai
kedamaian semedi. Hingga akhirnya
menuju lereng Lawu yang berada di
sekitar 2000 meter di atas
permukaan laut.
Saat melewati kota-kota, saya
mengibaratkan sebagai sebuah titik-
titik perjalanan ruhani yang harus
disinggahi. Terkadang harus istirahat
hanya untuk menghela nafas,
menunggu tarikan ruhani yang
menyedot energi kebenaran yang
ada di mana-mana. Lantas
kemudian, saya harus bergegas-
gegas untuk sebuah pengalaman
spiritual baru. Perjalanan baru yang
harus saya tempuh, saya berusaha
atasi dengan sabar ikhlas, nrimo dan
SUMARAH. Terkadang pula, saya
harus jatuh tersungkur karena
sebuah sebab dimana saya harus
menanggung kebodohan akibat pola
pikir, mindset dan keliru untuk
berolah rasa. Namun kemudian
bangkit lagi dengan cara baru
memandang kasunyatan ini.
Perjalanan dari yang lahir menuju
yang batin adalah sebuah proses
yang unik. Bukan harus
mengalahkan yang lahir demi
kemenangan yang batin, namun
perjuangan yangh batin untuk
menguasai yang lahir agar tidak
ngawur dan membabi buta cakil.
Kecenderungan yang lahir ini
bergerak sembarangan karena
tarikan yang lahir juga luar biasa
besar. Benda-benda di bumi ini
memiliki kekuatan magnetik untuk
menarik dan menyedot benda-
benda lain. Benda akan
bersinggungan kemudian lengket
dan susah untuk dipisahkan. Bila
tubuh jasmani yang benda ini
berdekatan dengan benda tubuh
jasmani yang lain maka pasti akan
terjadi saling tarik menarik yang
kuat. Begitu pula bila tubuh jasmani
yang hanya benda ini berdekatan
dengan benda lain seperti cincin
indah, kendaraan mewah dan
mahal, atau tubuh jasmani lain yang
indah maka dipastikan terjadi
ketertarikan dan akhirnya lengket
susah terpisah.
Bila ini terjadi dalam waktu sekian
lama dan titik orientasi kesadaran
kita tidak beranjak dari semesta tarik
menarik seperti ini, saya
beranggapan hidup kita sia-sia.
Sebab harusnya kesadaran kita
terangkat semakin tinggi, bahkan
harus mentransendensikan yang
lahir oleh yang batin. Oleh
karenanya, usaha untuk
memfokuskan dan lebih
menomorsatukan yang batin
daripada yang lahir adalah sebuah
perjuangan berat yang harus
diperjuangkan oleh manusia.
Bukankah manusia adalah titik
tengah antara yang lahir dan batin?
Malaikat, jin, dan beragam
variannya, kejujuran, kebijaksanaan,
keikhlasan adalah serba batin.
Hewan, tumbuhan, batu-batu mulia,
mobil, mall, logam mulia, uang,
eknonomi, politik, DPR, Presiden,
Jabatan, Kekuasaan, Korupsi
semuanya serba lahir.
Tuhan adalah Dzat yang awal dan
akhir, yang lahir dan yang batin.
Sama seperti manusia. Itu sebabnya
manusia berderajat tertinggi karena
hanya dialah yang mampu
“Menyamai Peran Tuhan”, ditunjuk
menjadi WAKIL, HAMBA, PELAYAN,
KEKASIH-NYA. Luar biasanya
manusia tidak terletak pada akalnya-
ciptanya (Ilmu Pengetahuan),
namun juga rasa (spiritualitas,
agama, kepercayaan), juga Karsa
(kelakuan untuk menjalani
perannya). Karena posisisnya yang
sangat strategis itulah manusia
harusnya terus memfokuskan diri
tanpa sedetikpun melupakan
TUHAN. Kita harus
mengorientasikan hidup kita untuk
selalu NGESTI TUNGGAL.
Banyak orang pintar namun kurang
bermoral, banyak orang bermoral
namun kurang pintar. Banyak orang
pintar, bermoral namun kurang
bijaksana. Justeru terkadang
kebijaksanaan lahir dari orang yang
tidak pintar namun bermoral.
Sesungguhnya, kebijaksanaan lahir
dari sebuah keutuhan bangunan
kemanusiaan yang harusnya terus
dicari karena kebijaksanaan tidak
pernah mengenal titik henti.
Kebijaksanaan akan terus berproses
dan terus menjadi (BECOMING) tidak
bisa hanya berada di satu titik
eksistensi (BEING) saja namun lebih
ke memudar (PERISHING) dan
menyatu kembali dalam wujud
yang berlainan. Untuk
menggambarkan apa dan
bagaimana luas cakupan
Kebijaksanaan ada baiknya saya
mengutip sebuah ilustrasi
sederhana. Ilustrasi hanya ilustrasi
yang hanya sekedar cara untuk
memahami bahwa kebijaksanaan
lebih luas dari ilmu pengetahuan.
Pada suatu saat ada dua orang
murid, yang satu bernama Yan
Juan, murid yang paling pandai,
yang satunya lagi tidak disebutkan
namanya, katanya murid yang
paling tidak pandai. Dua-duanya
berguru kepada Kong Cu atau
Konfusius yang oleh umat
Konghucu disebut sebagai Nabi
Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan,
si murid pandai, dengan murid
satunya lagi sedang bercakap-cakap.
Murid yang tidak pandai menantang
murid yang pandai. “Mari kita
berlomba?” “Apa Maksudnya?”
“Saya mengajukan pertanyaan, 8
kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab,
“24.” “Salah, yang betul 23.” “24
dong.” “Salah, kamu katanya
pandai, ternyata jawabannya 24,
yang betul 23.”
Berdebat di situ. Yang tidak pandai
menantang, mari kita datang ke
guru. “Kalau saya yang salah,
jawabanmu yang benar 24, saya
akan memotong leher saya sendiri.
Kalau kamu yang benar ternyata
jawabannya 24, topimu kamu
lepas.” Topi melambangkan
kecendekiawanan, kepandaian
seseorang waktu itu. Yan Juan tidak
ingin seperti itu, karena khawatir dan
cemas, kalau ada apa-apa dengan
temannya itu.
Singkat kata, karena tidak mencapai
titik temu, datanglah ke Nabi Kong
Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu
berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah
oleh dua-duanya tentang lomba itu.
Dengan berdebar-debar dua-duanya
menunggu jawaban Kong Cu.
“Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3
itu berapa?” “Yang benar ya 23.”
Mendengar itu Yan Juan, murid
yang paling pandai kecewa sekali,
marah, bahkan menuduh sang guru
telah berbohong. Akhirnya ia
memutuskan untuk meninggalkan
tempat itu dan mengancam akan
keluar dari perguruan itu dan tidak
ingin menjadi muridnya.
Sang Guru Kong Cu tersenyum,
“Silakan. Cuma begini Yan Juan,
kamu akan jalan barangkali ada
hujan lebat, hujan besar, jangan
deket-deket dengan pohon yang
besar, atau berlindung karena
pohon itu akan tumbang.” Keluar dia
dari situ. beberapa saat hujan lebat,
badai angin kencang. Ketika
mendekati pohon, ingat kembali
pesan Kong Cu, dengan cepat dia
meninggalkan pohon itu dan betul
saja dalam hitungan detik pohon
tumbang menghancurkan semua
yang ada di sekitarnya.
Dia terhenyak, dia mengatakan Kong
Cu bukan orang sembarangan. Ia
kembali, kepada Kong Cu memohon
maaf atas kekasarannya dan
kemudian barangkali ada nasihat.
Yan Juan dengarkan, “Kalau saya
ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24,
tetapi bayangkan kalau saya
mengatakan 24 waktu itu, kamu
akan menyesal seumur hidup,
kamu akan merasa berdosa, karena
ada seorang temanmu yang
nyawanya hilang karena kamu.” 8
kali 3 atau 24 dalam konteks ini
adalah kebenaran kecil, kebenaran
matematis. Kebenaran besarnya
adalah berapa nyawa orang yang
harus diselamatkan.
Kisah di atas bisa diambil hikmah
bahwa ilmu pengetahuan memang
benar mampu membuka cakrawala
kenyataan secara eksak, pasti dan
tidak terbantahkan. Semua orang
tahu itu. Tetapi, ilmu pengetahuan
tidak mampu untuk menangkap
hakikat pergelaran alam semesta
yang begitu kompleks ini.
Kebenaran kecil adalah kebenaran
rasio, akal dan matematis.
Kebenaran besar adalah bagaimana
kita mampu mengolah akal, rasa,
hati nurani, dan budi pekerti kita
untuk berperilaku yang baik dan
sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan untuk menggapai
kebenaran dan kebijaksanaan
Tuhan.
Akhirnya, sampailah saya di rumah
orang tua di lereng Gunung Lawu.
Setelah duduk bersimpuh di
hadapan orang tua, bercengkrama
sambil meminum teh hangat dan
menyedot rokok menikmati masa
lalu, saya mendaki sebuah
perbukitan kecil di dekat rumah. Di
atas sebuah gua, batin
mengangkasa bersama semilir
angin yang berhembus sepoi,
bergerak terbang, sayapnya
mengepak menuju entah ke mana

wongalus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar