Sabtu, 11 Desember 2010

power of WIRID

POWER OF WIRID Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ on 11 December 2010 by wongalus 1 Votes Ngatimin
mistik_sejati@yahoo.co.id Nuwun sewu ki wong alus
kepareng Derek latihan dadi
wong apik nebaraken winih
wonten blog wong alus
kagem sedulur sedulur sedoyo
kususipun seluruh alam amin. SETIAP aktivitas tiada yang
tidak membuahkan hasil.
Itulah kata para ahli hikmah.
Begitu halnya dengan
aktivitas rohani, setiap olah
rohani tentu membekaskan sesuatu bagi pengamalnya.
Tetapi hasil itu kadarnya
tergantung dari factor
pendorong yang amat
kompleks. Ibarat alat tulis, setiap goresan
tentu meninggalkan bekas.
Tetapi alat tulis yang dipegang
oleh orang yang ahli –melukis umpamanya —hasilnya tentu berbeda dengan hasil goresan
orang awam. Begitu halnya,
suatu amalan akan
menghasilkan yang berbeda,
tergantung dari siapa yang
mengamalkannya. Ayat kursi yang diamalkan
oleh orang yang saleh tentu
hasilnya berbeda ketika ayat
itu diamalkan oleh orang
awam. Jadi, yang
menentukan itu bukan jenis amalannya, tetapi siapa yang
“dibalik” amalan itu. Dalam kehidupan sehari hari manusia
pun melihat adanya
perbedaan – perbedaan yang dilakukan satu orang dengan
orang lain, walau
menggunakan alat yang sama. Si A bisa menorehkan tanda
tangan (saja) hasilnya sudah
bisa untuk membeli mobil, si B
menorehkan ribuan tanda
tangan tetapi hanya
mendapatkan sekadar uang lelah, bahkan si C tidak
mendapatkan apa – apa. Mengapa bisa demikian ?. Jawabnya adalah soal
pangkat. Semakin tinggi
pangkat seseorang semakin
banyak yang mampu
dilakukannya. Begitu halnya
di dalam berdoa atau beramal yang berkaitan dengan
suprantaural (gaib) pangkat
dalam kerohanian
menentukan hasil yang
hendak diraihnya. Artinya, semakin tinggi
tingkat spiritual Anda
semakin banyak hal – hal yang mampu dilakukan.
Karena itu dua orang yang
menghadapi problem yang
sama —jenis maupun bobotnya — yang seorang cukup membaca ayat kursi
sebanyak 117 kali dan
problemnya sudah berhasil,
sedangkan orang lain baru
berhasil setelah
menyelesaikan hitungan 313 kali. Bahkan boleh jadi, ada
orang lain yang sudah mampu
menyelesaikan problemnya
hanya dengan tiga atau tujuh
kali ayat kursi.
Bagaimana meningkatkan pangkat kerohanian itu ?
caranya adalah berupaya
meningkatkan ketakwaan
yaitu menjalankan perintah
dan mencegah apa pun yang
dilarangNYA. Karena itu banyak kelompok oleh rohani
yang mencanangkan rambu
rambu kepada pengikutnya,
seperti anjuran untuk
memperbanyak ibadah — sunnah disamping yang wajib
—. Upaya menghindari dari dosa
dosa besar serta menambah
intensitas pendekatan itu
secara tidak langsung akan
menghantarkan manusia pada
kelas spiritual yang makin tinggi. Dari kegiatan riyadhah
itu memiliki bias pada
perubahan hati —sebuah organ manusia yang menentukan
apakah manusia itu menjadi
baik atau buruk —karena dengan gerak hati pula
seluruh anggota badan yang
lain menjadi bergerak dan
bertindak. Wirid atau mengamalkan
amalan ritual yang dilakukan
secara rutin dna benar serta
diikuti dengan tata laku yang
menunjangnya adalah
memancarkan cahaya –cahaya halus pada hati. Semakin
banyak cahaya itu makin
banyak pula cahaya yang
meneranginya. Seorang guru hikmah berkata
bahwa dalam hati manusia itu
terdapat dua wilayah yang
satu dengan yang lain saling
bertempur untuk menguasai.
“Wilayah ” yang dimaksud itu adalah kekuasaaan setan yang
disebut Khotir Syaithoni, dan
wilayahnya malaikat yang
disebut Khotir Malaki. Seseorang yang hatinya lebih
didominasi khotir syaithoni
memiliki kecenderungan
untuk selalu berbuat hal hal
yang buruk, sedangkan hati
yang penuh dengan khotir malaki mempengaruhi
manusianya untuk selalu
berbuat yang baik baik.
Wirid itu dimaksudkan untuk
menyuplai hati dengan cahaya
– cahaya positif (Khotir Malaki). Sehingga dengan
dominannya khotir malaki
itu, kekuasaan setan makin
terdesak atau menipis, dan
hati yang terbebas dari khotir
syaithoni ini adalah hati yang peka terhadap cahaya cahaya
halus, atau dalam istilah
sederhananya disebut hati
yang memiliki kekuatan
batin. Hati yang demikian itu tidak
hanya mempengaruhi sikap
positif pada perilaku
manusianya. Tetapi
jugamenjadi sumber inspiriasi
dalam karya karya teknologi batin. Dan menjadi modal
paling besar seseorang yang
ingin membangkitkan
kemampuan alam bawah
sadarnya. Bahkan
terbebasnya hati dari khotir syaithoni menyebabkan
manusia itu memiliki
kemampuan melihat alam
malakut (alam gaib)
sebagaimana tersurat pada
sabdi Rasullah SAW. “Andaikan setan – setan itu tidak mengerubungi hati anak
anak Adam. Niscaya mereka
dapat melihat Alam Malakut
yang ada di langit. (HR.
Ahmad)
Karena itulah, Wirid atau bentuk – bentuk riyadhoh lain —sepanjang yang terkait dengan ibadah—memiliki fungsi pokok menyuplai
pancaran pada hati.
Sedangkan dari aspek lain,
aktifitas itu memiliki fungsi
samingan di antaranya :
- Menabung energi gaib. - Bentuk olah pernapasan dan
konsentrasi.
- Melatih istikomahnya hati.
- Memprogram batin,
memvisualisasikan kehendak.
- Dll. Percayakah Anda bahwa
wirid itu bisa menabung
kekuatan ? Dalam sebuah
hadis Qudsy Allah berfirman
banya mengingat Allah dikala
engkau suka (tidak ada bahaya) menyebabkan Allah
akan mengingatmu dikala
susah. ARtinya, aktivitas
mengingat Allah —melalui wirid atau zikir — menyebabkan Allah akan
mengingat pengamal zikir/
wirid itu di kala sudah
(bahaya).
Itu pula yang membuat
keyakinan para ahli hikmah bahwa riyadhoh juga sebuah
upaya menyimpan energi.
Sedangkan pada sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh
Hakim : Tidak sesuatu yang
paling mulia dalam pandangan Allah, selain berdoa kepada-
Nya, sedang kita dalam
keadaan lapang. Terbukti
orang – orng yang rajin mengamalkan wirid wirid
tertentu, semakin pada
intensitasnya, makin sering ia
mengalami hal hal gaib yang
secara nalar hal itu mustahil
mampu dilakukannya. Selain itu, wirid juga diyakini
merupakan bentuk dari
latihna konsentrasi dan olah
nafas, tetapi hal ini sering
tidak dimengerti oleh
pengamalnya. Dan sebagaimana kita ketahui,
jauh sebelum ilmu pernafasan
atau tenaga dalam dikenal
banyak orang, metode ilmu
wirid sudah menerapkan
dasar dasar dari olah pernafasan dan konsentrasi
itu. Itulah sebabnya, mengapa
banyak ahli wirid kemudian
memiliki kemampuan adi
kodrati baik yang berkaitan
dengan kewaskitaan (tembus
pandang) kanuragan (kekuatan fisik) dan lain lain.
Dan penyelidikan ilmu modern
meyakini adanya efek dari
aktivits olah nafas ini. Hikmah dari wirid, menurut
para ahli ilmu batiniah —selain yang sudah tersebut di atas — adalah melatih hati bersifat
istiqomah, yaitu
mempertahankan amalan baik
dari rasa bosan. Sehingga,
menurut para hukama
kelebihan yang dimiliki para ahli wirid itu justru karena
karamah yang timbul dari
istiqomah. Sehingga
muncullah pepatah : Al
Istiqomah khoirul min ali
karomah yang artinya Istiqomah itu lebih mulia dari
seribu karomah (kemuliaan). Hikmah lain dari ketekuknan
wirid adalah terpogramnya
hati kepada salah satu tujuan.
Kesimpulannya, wirid adalah
memprogram kehendak
batin. Dan geraknya hati itu juga bagian dari kehendak
(persangkaan) dan doa
manusia. Karena itu wirid
merupakan sarana untuk
meraih sesuatu yang
terkandung dalam hati. Ketika seseorang berkehendak
sesuatu, maka ucapan dari
mulut hanyalah sebuah
sarana. Intinya justru pada
hati itu. Karena itu pula, dari
jenis amalan wirid yang sama tidak harus menghasilkan
hikmah/ manfaat yang sama. Seperti wirid ayat kursi ada
yang meyakini mampu
mendatangkan hajat yang
berkaitan dengan rezeki,
tetapi pada pihak lain ada
yang meyakini untuk menolak niat jahat, untuk
bela diri atau benteng gaib
suatu lokasi agar terhindar
dari tangan jahil.
Mengapa bisa demikian ?
Bukankah amalannya terdiri dari ayat yang sama ? Tentu,
karena yang menentukan itu
tidak semata mata ayatnya,
tetapi kehendak hati
seseorang ketika
mengamalkan ayat itu ditujukan untuk tujuan yang
bagaimana.
Karena keyakinan bahwa
wirid itu tergantung program
kehendak pengamalnya, lalu
muncullah ilmu ilmu yang mengklasifikasikan hikmah
dari amalan itu. Muncul pula
ahli yang diyakini masyarakat
mampu memberikan
petunjuk cara cara
pengamalan, dan informasi itu kemudian dijadikan pedoman
yang menimbulkan
keyakinan hati.
Dengan demikian, dalam
aktivitas wirid itu seluruh
aspek pengolahan batin tercakup seluruhnya. Mulai
dari aspek doa, istikomah,
olah pernapasan dan
konsentrasi dan pengerahan
visualisasi batin menuju pada
satu titik tujuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar